Melawat ke Seruyan

Aksan Taqwin Embe

5/5
Pada dasarnya, sastra dapat dijadikan sebagai sarana diplomasi lunak (soft diplomacy) untuk memartabatkan bangsa dalam pergaulan global. Selain itu, sastra juga dapat memperteguh jati diri bangsa, memperkuat solidaritas kemanusiaan, dan mencerdaskan bangsa. Sastra yang memotret peradaban masyarakat bahkan dapat memberikan pemahaman lintas budaya dan lintas generasi. Sayangnya, masyarakat dunia kurang mengenal karya sastra dan sastrawan Indonesia. Hal itu mungkin terjadi karena sastra belum menjadi kebutuhan hidup sebagian besar masyarakat Indonesia. Karya sastra belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana strategis pembangunan bangsa. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah merasa perlu memfasilitasi sastrawan untuk berpartisipasi nyata dalam pembangunan bangsa secara paripurna. Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan telah menyelenggarakan program Pengiriman Sastrawan Berkarya sejak tahun 2016. Pada tahun 2016 satu orang sastrawan dikirim ke luar negeri (Meksiko) dan lima orang sastrawan ke daerah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal), yaitu Sabang, Aceh; Nunukan, Kalimantan Utara; Halmahera Barat, Maluku Utara; Belu, Nusa Tenggara Timur; dan Merauke, Papua.

Informasi

Ulasan Buku

Melawat ke Seruyan

Aksan Taqwin Embe

5/5

Sinopsis

Pada dasarnya, sastra dapat dijadikan sebagai sarana diplomasi lunak (soft diplomacy) untuk memartabatkan bangsa dalam pergaulan global. Selain itu, sastra juga dapat memperteguh jati diri bangsa, memperkuat solidaritas kemanusiaan, dan mencerdaskan bangsa. Sastra yang memotret peradaban masyarakat bahkan dapat memberikan pemahaman lintas budaya dan lintas generasi. Sayangnya, masyarakat dunia kurang mengenal karya sastra dan sastrawan Indonesia. Hal itu mungkin terjadi karena sastra belum menjadi kebutuhan hidup sebagian besar masyarakat Indonesia. Karya sastra belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana strategis pembangunan bangsa. Sehubungan dengan hal tersebut, pemerintah merasa perlu memfasilitasi sastrawan untuk berpartisipasi nyata dalam pembangunan bangsa secara paripurna. Untuk itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan telah menyelenggarakan program Pengiriman Sastrawan Berkarya sejak tahun 2016. Pada tahun 2016 satu orang sastrawan dikirim ke luar negeri (Meksiko) dan lima orang sastrawan ke daerah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal), yaitu Sabang, Aceh; Nunukan, Kalimantan Utara; Halmahera Barat, Maluku Utara; Belu, Nusa Tenggara Timur; dan Merauke, Papua.

Informasi

Ulasan Buku